
KalselMedia.com, Barabai – Dinas Kesehatan Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) mencatat adanya peningkatan signifikan jumlah kasus HIV sepanjang Januari hingga Juli 2025.
Kepala Dinas Kesehatan HST dr Hj Desfi Delfiana Fahmi menyampaikan bahwa selama periode tersebut, ditemukan 44 kasus baru orang dengan HIV (ODHIV).
“Jumlah ini naik cukup tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2024, di mana hanya ada 18 kasus. Dari 44 kasus di tahun ini, sekitar sepertiganya merupakan pasien dari luar wilayah HST yang terdeteksi di RSUD H. Damanhuri (RSHD) Barabai dan rutin menjalani terapi ARV,” ungkap dr Desfi Rabu (27/8/2025).
Berdasarkan data Dinkes, kasus terbanyak ditemukan pada kelompok usia produktif, yakni 25 – 50 tahun, dengan dominasi laki-laki. Secara wilayah, Kecamatan Barabai tercatat sebagai daerah dengan kasus HIV terbanyak di HST.
Untuk menekan angka penularan HIV, Dinkes HST bersama jajaran puskesmas terus melakukan upaya peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit.
Edukasi tentang cara penularan dan pencegahan HIV terus digencarkan, disertai dengan skrining aktif terhadap populasi berisiko, seperti ibu hamil, pasien TB, serta kelompok kunci (waria, pekerja seks, LSL/gay, dan warga binaan pemasyarakatan).
“Hingga Juli 2025, hampir dua ribu orang telah menjalani skrining HIV,” tambahnya.
Selain itu, layanan pengobatan HIV juga diperluas. Jika sebelumnya hanya tersedia di RSHD Barabai, kini sudah ada 11 dari 19 puskesmas di HST yang memberikan layanan pengobatan ARV.
Langkah ini diambil agar pasien bisa lebih mudah mengakses layanan kesehatan sesuai domisili masing-masing.
Dinkes HST memastikan bahwa hingga pertengahan 2025, ketersediaan obat ARV serta alat tes HIV/sifilis combo (RDT) masih mencukupi.
“Alhamdulillah, stok obat dan reagen skrining aman hingga Desember 2025, sehingga tidak ada hambatan dalam pelayanan maupun pengobatan ODHIV,” tegasnya.
Kepala Dinas Kesehatan HST juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk berperan aktif dalam pencegahan HIV sekaligus mendukung orang dengan HIV agar tidak mengalami diskriminasi.
“Kami menghimbau masyarakat HST untuk bersama-sama menanggulangi HIV. Orang tua diharapkan memperhatikan pergaulan remaja, dan seluruh pihak bisa ikut berperan dalam sosialisasi pencegahan. Yang terpenting, jangan ada diskriminasi terhadap ODHIV, karena mereka berhak mendapatkan dukungan dan akses penuh terhadap layanan kesehatan,” pungkasnya. (Athaillah).